Cerita dewasa, Cerita pemerkosaan, Cerita Mesum, Cerita ngentot

Jumat, 17 November 2017

Gadis Desa Montok Dan Nikmat

Cersexindo - Sore itu aku dan lilis berjalan-jalan disekitar desa, sambil menikmati indahnya senja di persawahan yg tak jauh dari rumah lilis.


Setelah lelah kami berjalan, kami duduk direrumputan dipinggir sawah, tampak begitu indah kulihat pemandangan persawahan dari sini, terutama pada senja itu, dengan matahari yg hanya tinggal beberapa saat lagi tenggelam dibalik gunung salak yg menjadi latar belakang persawahan itu, dengan cahayanya yg merah keemasan menyinari air sungai yg melingkar ditepi persawahan, air sungai tampak berkilat bagaikan emas, serasi dengan pohon-pohon kelapa yg tumbuh dipinggirnya yg menambah keindahan senja itu, suatu lukisan alam dengan komposisinya yg begitu sempurna.

Tak kurelakan momen yg indah itu untuk berlalu begitu saja dari hadapanku, seraya kukeluarkan ponselku, dan kuabadikan dengan kamera photonya, namun hasilnya tak seperti yg kuinginkan, ternyata hasil photo dari kamera ponsel memang kurang memuaskan, semestinya aku membawa kamera DSLR yg kutinggal dirumah, dengan kamera itu aku dapat mengatur diaprahgma,shutter speed,ISO, dan beberapa pengaturan yg lainnya, sehingga bisa menghasilkan gambar sesuai dengan keinginanku, terutama efek siluet yg kuinginkan untuk momen sunset seperti ini.

“Pulang yuk mas, udah mahgrib nih..? ” ajak lilis, dan kamipun pulang. Sepanjang perjalanan yg menyusuri pematang sawah sesekali kami menjumpai petani yg baru pulang bekerja dengan senyumnya yg ramah kepada kami, berhenti beberapa saat untuk kemudian berbincang-bincang dengan lilis dengan menggunakan bahasa daerah yg tak sepenuhnya kumengerti, untuk kemudian kami lanjutkan lagi perjalanan pulang.

Hari mulai sedikit gelap, dilangit kulihat burung-burung mulai pulang kesarangnya, seolah melakukan pergantian shift dengan kelelawar yg justru baru keluar dari sarang mereka setelah tidur sepanjang siang hari. Lapat-lapat terdengar suara azan mahgrib dari desa sebelah, ya, dari masjid atau surau didesa sebelah, bukan dari desa ini, karna didesa X ini memang tak ada satupun masjid atau surau, begitupun gereja dan tempat ibadah lainnya, sehingga masyarakat didesa lain sering mengatakan bahwa desa X ini sebagai desa yg jauh dari tuhan, kampung kafir, kampungnya orang gak bermoral, atau apalah lagi sebutan mereka, sehingga desa X ini menjadi desa yg tersisih dan terisolir, bahkan dalam pembangunanpun desa ini juga terdiskriminasikan, dan tidak terjangkau atau tepatnya tidak ingin dijangkau oleh aparatur pembangunan, sebagai contoh adalah jalan, sewaktu dari Jakarta kesini tadi, kami melintasi jalan didesa sebelah yg jalannya sudah beraspal, namun begitu telah tiba memasuki wilayah desa X ini, aspal itu terputus sampai disitu, sehingga mobil temanku harus menyusuri jalan tanah yg becek, itu baru salah satu contoh, belum lagi dengan fasilitas yg lainnya seperti puskesmas, sekolah dll, disitu tak tersedia, sehingga untuk keperluan itu warga desa X harus mendapatkannya ke desa lain.

pernah suatu hari seorang camat berkunjung kedesa itu untuk sekedar bersosialisasi dengan penduduk sekitar, namun apa yg didapat, cemo’oh dan hujatanlah yg diterimanya dari warga dan beberapa tokoh masyarakat, dianggap camat yg mendukung kemaksiatan lah, camat kafir lah, dan buntut-buntutnya beberapa bulan kemudian sang camat sudah berganti orang, konon dituntut mundur oleh warga, semenjak itu aparat birokrasi seolah enggan untuk menjamah desa itu, dan desa itu mungkin dianggap tak ada didalam tata wilayah daerah.

Bukan sekali dua beberapa tokoh agama berusaha untuk mengubah pola hidup mereka, baik dengan pendekatan yg halus atau radikal, namun sama sekali tak membawa hasil, mereka tak bisa merubah apapun dari desa itu, desa X tetap berjalan dengan iramanya sendiri, irama yg menurut mereka benar, mereka menjalankan hidup mereka sesuai dengan hati dan rasa mereka, yg berpedoman dengan tidak merugikan diri sendiri, diri orang lain, dan juga alam, itulah irama yg mereka jalankan, irama yg sederhana sebenarnya.

Dengan pola pemikiran dikehidupan mereka yg seperti itu, walaupun tidak tertulis, namun mereka menjalaninya dengan konsisten, dan itu telah ter mind-set dalam pikiran mereka semenjak mereka lahir. Dengan demikian praktis memang didesa itu tak pernah terjadi pencurian, perkelahian, apalagi tawuran antar warga, karna berpulang dari prinsip mereka itu tadi, yaitu tidak ingin melakukan tindakan yg merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain, tidak juga merugikan alam. Hal itu memang kurasakan tadi saat jalan berkeliling desa dengan lilis, disitu kurasakan betapa masyarakatnya begitu ramah, senyum dan tegur sapa selalu kutemukan dari wajah-wajah mereka, dan mereka saling menghargai satu sama lain.

Akhirnya kami sampai dirumah, makan malam telah tersedia dibalai-balai bambu, tak jauh berbeda menunya dengan siang tadi, menu yg menggoda selera, dan seperti tadi siang pula dua piring nasi kandas didalam perutku.

Selaesai makan kami duduk bersantai diruang tengah sambil menonton tv, lilis berbaring dilantai yg beralaskan tikar pandan, sedang pak engkos duduk dikursi sambil tak henti-hentinya merokok, bagaikan asap cerobong kereta api yg senantiasa mengepul tak putus-putus, kulihat asbak dimeja disampingnya hampir penuh oleh puntung rokok keretek. Sementara aku duduk dikursi panjang semacam sofa, hanya tak layak untuk disebut sofa karna hanya terbuat dari kayu dan tanpa plitur, juga tak ada busa sebagai pelapisnya, dan kokom entah kemana, mungkin sedang sibuk mencuci piring sisa makan malam kami.

Beberapa menit kemudian kokom muncul dengan dua gelas berisikan kopi panas, satu untuk pak engkos suaminya itu, dan yg satu untuk ku.

” Ayo diminum, mumpung masih panas..” ujarnya, seraya dihempaskan dirinya duduk disampingku.

” Masih panas diminum, bisa melepuh dong mulut saya mih..” ujarku menggoda, yg dibalas oleh cubitan kokom diperutku.

Untuk beberapa saat kami cukup serius menyaksikan tayangan sepakbola piala AFF antara kesebelasan Indonesia melawan Laos, hingga keseriusan kami terhenti sejenak setelah dibunyikannya pluit oleh sang wasit pertanda babak pertama telah usai, untuk sementara kesebelasan kesayangan kita unggul 2-0.

Sementara menunggu babak kedua dimulai, kokom yg duduk satu kursi denganku mulai merapatkan tubuhnya padaku, mula-mula diusap-usapnya pahaku, lalu tangan itu terus merayap menyentuh-nyentuh kontolku, hingga “adik kecilku” itu terbangun.

” Wah, mas hendi kontolnya mulai bangun nih…” goda kokom, lilis yg sedang berbaring menengok sesaat kearah kami.

” Aduuuhh..penganten baru, mesra terus nih, belum puas nih dari tadi..” goda lilis

Tak enak hati juga aku, karna pak engkos masih ada disitu, aku hanya senyum-senyum saja, canggung dengan pak engkos.

Seolah paham dengan yg aku rasakan, pak engkos beranjak dari situ.

” Abah mau tidur dulu ya, ngantuk nih..” ujarnya, sebenarnya aku yakin pak engkos belum mengantuk, terlihat begitu antusiasnya tadi dia menyaksikan pertandingan dibabak pertama, dan tentu sudah tidak sabar lagi untuk menyaksikan babak kedua.

Sepeninggalan pak engkos aku menjadi lebih leluasa, kukecup bibir kokom yg masih asik memijit-mijit batang kontolku yg masih terbungkus celana pendek, koni kokom menarik celana pendekku dan mencampakkannya dilantai sehingga batang kontolku menyembul keluar setengah tegak, kokom turun dari kursi disampingku, kini dia berjongkok dengan wajahnya menghadap keselangkanganku, digenggamnya batang kontolku, dijilatinya dengan lembut sekujur kontolku mulai dari lubang pipisku, sampai kebiji pelirku, nikmat kurasakan hingga aku mendesah, tak kuhiraukan ocehan-ocehan lilis yg terus menggoda kami.

Kini kokom mulai mengulum batang kontolku, kepalanya bergerak maju mundur dengan berirama, sementara tangan kanannya digunakan untuk menggenggam pangkal batang kontolku, tangan kirinya digunakan untuk meremas-remas kantong pelirku.

Tampaknya lilis tak tahan melihat aksi kami, dilucutinya seluruh pakaiannya hingga kini lilis benar-benar bugil, lilis naik dan berdiri diatas kursi yg aku duduki, dikangkanginya wajahku, sehingga memeknya tepat berada diwajahku, sementara kedua tangannya bertumpu pada dinding kayu yg berada tepat dibelakang kursi,.

” Ayo mas, jilatin memek lilis mas.. mas hendi curang ya, tadi ngentot sama mamih lilis enggak diajak..” ujarnya manja, dengan rakus segera ku”makan” memek yg ada dihadapanku itu, kujilati seluruh areanya, tak terkecuali dinding bagian dalamnya kukerek-korek dengan lidahku.

” Zzzzzz..aaaaahhh enak mas..terus jilatin memek lilis mas…” gumamnya

Tampaknya birahi lilis semakin tinggi ditandai dengan memeknya yg mulai basah, asin-asin gurih kurasa cairan pelumas yg mulai membaluri memeknya. Kini lilis menggosok-gosokan dan menekan-nekan memeknya dengan kasar kewajahku, sampai-sampai belakang kepalaku terbentur-bentur dinding kayu dibelakang kursi.

Beberapa saat kemudian lilis turun dari kursi, kini lilis memposisikan dirinya menungging dilantai yg beralaskan tikar pandan.

” Ayo mas, entot lilis mas..biar mamih nanti saja, kan mamih tadi sudah…” ujarnya.

Kusuruh kokom untuk “merelakan” kontolku keluar dari hisapan mulutnya, kuhampiri lilis yg menungging, kupegang batang kontolku dengan tangan kanan, dan bless.. masuklah kontolku kedalam memeknya yg sudah basah oleh cairan birahi, bersamaan dengan itu pula dari pesawat televisi pluit babak kedua pertandingan sepakbola berbunyi, bertanda pertandingan segera dilanjutkan, begitu juga dengan pertandinganku dengan kedua wanita-wanita yg cantik dan seksi ini.

Kupompakan pantatku maju mundur mendobrak pertahanan lilis, begitu juga dengan pertandingan sepakbola ditv pemain-pemain Indonesia mulai menggebrak pertahanan laos dengan gencar.

Hingga beberapa menit kemudian lilis mencabut kontolku dari memeknya , lalu dia mendekatiku

” Mas, lilis ingin lubang dubur lilis dientot, seperti yg difilm tadi, boleh ya mas..mas hendi mau kan ngentotin dubur lilis..mau ya mas..? ” pintanya memelas, seolah begitu memohon

” Sudah tentu sayang, mas akan dengan senang hati ngentotin lubang dubur lilis..” ujarku seraya kukecup bibirnya dengan mesra.

Mendengar jawabanku lilis tampak begitu senang, sambil memekik kegirangan digoyang-goyangkannya tubuhnya seolah seperti menari.

” Horeeee…asik, mas hendi mau ngentotin lubang dubur lilis, makasih ya mas hendi…” ujarnya sambil diciuminya bibirku berkali-kali.

Kini lilis kembali denganposisi menungging, kujilati sebentar lubang anusnya, kuludahi beberapa kali, kuraih kepala kokom agar dia mengoral kontolku, dioralnya batang kontolku oleh kokom, setelah itu kusuruh kokom untuk membaluri batang kontolku dengan air ludahnya, setelah kurasa cukup banyak air ludah membaluri kontolku dan kupikir itu cukup sebagai pelumas didalam lubang anus lilis nanti.

Kuarahkan batang kontolku tepat kelubang anus lilis, dan bless..masuklah ujung kontolku kedalam lubang anus lilis, terlihat dari pesawat tv bola menjebol gawang laos, gol tambahan untuk tim Indonesia,tepat bersamaan dengan masuknya kontolku kedalam anus lilis.

” Aaaaahhh… agak sakit mas, pelan-pelan.. ” erang lilis pelan

” Enggak apa-apa lis, sakitnya cuma sebentar koq..sebentar lagi kamu pasti keenakan..” ujarku

Mulailah kudorong lebih kedalam batang kontolku hingga tandas seluruh batang kontolku memasuki lubang anusnya, lilis masih merintih, lalu mulai kupompakan maju mundur, namun tak terlalu cepat, aku paham anus lilis belum familier dengan gesekan-gesekan.

Hingga beberapa saat kemudian kulihat lilis mulai enjoy, kini lilis mulai dapat menikmati penetrasi dari lubang anusnya, itu ditandakan dengan senyum yg mulai menghiasi wajahnya, yg sebelumnya merintih kesakitan kini berganti dengan merintih nikmat.

” Zzzzzzz…aaaaahhh.. enak mas, ternyata sekarang enak mas.. aaahh nikmaaaattt..” gumamnya.

Sementara kokom yg sebelumnya hanya bengong menyaksikan aksi sodomiku dengan lilis, kini dia mendekatiku dan berkata setengah berbisik ditelingaku.

” Mas hendi, sambil ngentotin dubur lilis, mas hendi jilatin juga dubur mamih ya mas..biar mas hendi puas dapat sekaligus dua lubang dubur hi..hi..hi..” ujarnya, sebuah ucapan vulgar yg membuatku semakin bergairah, kukecup bibirnya.

” Iya mih..ayo mih, aku jilatin lubang dubur mamih, cepet mih..” ujarku tak sabar

Kini kokom bangkit berdiri, dia berdiri mengangkangi lilis yg menungging, posisinya membelakangiku, sehingga pantatnya tepat berada dihadapanku, seraya disibaknya lubang anusnya dengan kedua tangannya, sehingga memperlihatkan lubang anusnya yg menganga dengan warna agak kemerahan, begitu bernafsu aku melihatnya.

” Ayo mas, jilatin lubang dubur mamih…” pintanya manja

Segera dengan rakus kijilati lubang anusnya yg menganga, nikmat kurasakan, sebuah sensasi yg luar biasa, batang kontolku menyodomi anus lilis, sementara mulutku menikmati anus ibunya, wuiihh..mantap, sungguh berkah, pikirku.

Sementara lilis semakin liar, lilis yg untuk pertama kalinya melakukan sodomi rupanya dia merasa mendapatkan kenikmatan tersendiri yg tidak dirasakan saat penetrasi dengan lubang memeknya.

“Aaaaaahhhh…enak mas..terus mas, entotin lubang dubur lilis mas, rasanya nikmat, terasa sampai ke ulu hati aaaahhh…” oceh lilis, sambil tangan kirinya mengobel-ngobel lubang memeknya.

Semakin bersemangat aku memompakan kontolku menghujami anus lilis, yg sebelumnya aku memompakannya hanya dengan pelan, kini telah dengan kecepatan penuh, hingga tubuh lilis ikut terguncang-guncang.

Sementara makin rakus aku menjilati lubang anus mamih, sesekali kusedot anus itu, atau kubenamkan wajahku kedalamnya, sehingga wajahku menyusup masuk kedalam belahan bokongnya yg besar dan montok itu.

” Zzzzzz…uuuuhhh… terus mas..terus jilatin lubang dubur mamih mas, lubang pantat mamih, lubang tai mamih..hi..hi..hi..” ujarnya

Hingga beberapa menit kemudian tubuh lilis tampak mulai mengejang, semakin sepat lubang memeknya dikocok-kocok dengan jari-jarinya, rupanya lilis telah sampai pada puncak birahinya

” Aaaaaaaahhhhh….lilkis keluar maaaaaaaasssss….” Setelah teriakan keras yg terakhir itu tubuh lilis terdiam, klimaks untuk yg pertama kalinya dalam kenikmatan anal seks.

Melihat lilis yg sudah tak berdaya, kokom segera menjauhkan lubang anusnya dari wajahku, seraya dia menungging disamping lilis.

” Mas, sekarang entotin lubang dubur mamih.. langsung lubang dubur mamih aja ya mas, enggak usah dimemek dulu, soalnya mamih belum pernah, kalau lubang memek kan sudah sering.. ayo mas, mamih udah kepingin nih.. cepet dong mas..” pinta kokom

Kucabut batang kontolku dari anus lilis, dan kuhampiri kokom yg menungging, pantatnya yg montok tampak lebih besar dan bulat dalam posisi menungging seperti itu, kujilati sejenak, kuludahi beberapa kali seperti yg tadi kulakukan pada lilis, setelah cukup kutancapkan kontolku pada lubang anusnya, seperti juga lilis, untuk pertama kalinya kokom merintih sakit, namun tak sampai satu menit, rintihan kokom berubah menjadi rintihan nikmat.

” Aaaaaahhhh… terus mas, entotin lubang dubur mamih…aaaahhh..” ujarnya

” Enak mih.. lubang pantatnya saya entot..? enak ya mih..? ” ocehku, sambil terus memompakan batang kontolku dalam lubang anusnya

” Iya mas, sedap mas…mas hendi harus ngentotin lubang dubur mamih terus ya mas, aaahhh” jawab kokom

” Lubang apanya lis yang dientot..? ” tanyaku, menggoda

” Lubang dubur mamih mas, lubang pantat, lubang tai, lubang berak hi..hi..hi..” jawab lilis, sambil tertawa merasa lucu dengan ucapannya itu.

Kini tangan kananku kugunakan untuk mengobel-ngobel lubang memek kokom, sambil terus aku memompakan pantatku maju mundur, kokom tampak semakin blingsatan, basah kurasakan tanganku oleh cairan memeknya, semakin cepat kukobel-kobel jari tengah dan jari telunjukku yg sekaligus masuk dalam lubang memeknya.

Sedang asiknya aku menikmati lubang pantat kokom, iba-tiba pak engkos muncul

” Maaf mengganggu.. saya cuma mau ambil korek api saya yg ketinggalan, maaf…” ujar pak engkos, sambil membungkuk-bungkukan badannya. Sial.., pikirku, dia melihatku sedang menyodomi istrinya, namun dengan sikapnya yg masih ramah seperti itu tadi, sikap yg tak sedikitpun menunjukan rasa tidak senang atau tersinggung, aku merasa itu bukanlah suatu masalah, sepertinya pak engkos memang sudah rela istrinya diperlakukan apapun olehku, selama istrinya itu suka dan tidak keberatan barangkali. dan kalau dilihat dari ekspresi kokom saat itu, yg tentu saja juga telah dilihat oleh pak engkos tadi, adalah ekspresi kenikmatan, mungkin dalam hatinya tadi pak engkos berkata “wah, rupanya istriku suka sekali disodomi.. begitu menikmatinya dia, sukurlah kalau itu memang membuatnya bahagia” mungkin itu yg pak engkos pikirkan, semoga saja.

Beberapa menit kemudian kokom mencapai puncak kenikmatan , disertai dengan pekikan yg cukup keras, begitu banyak kurasakan cairan yg membasahi memeknya sehingga saat tanganku mengobel-ngobel memeknya berbunyi clok..clok..clokk.. akhirnya kokom diam, tuntas sudah birahinya.

Hanya selang beberapa detik, tubuhku mulai mengejang, kocokan batang kontolku dilubang pantat mamih semakin kencang, dan crottt..crott..crott.. kutumpahkan seluruh air maniku didalam lubang dubur kokom, nikmat rasanya.

Tiba-tiba lilis sudah berada disampingku, ditariknya batang kontolku yg masih menancap didalam lubang anus kokom, lalu dikulumnya dengan rakus, sepermaku yg melekat pada batang kontolku ditelannya, lalu dikocok-kocoknya batang kontolku dengan harapan masih keluar satu atau dua tetes air mani, namun setelah dirasakannya tidak ada setetespun spermaku yg keluar, tampak terlihat raut wajahnya yg kecewa, lalu terdiam sejenak, kemudian tersenyum, entah apa arti senyumnya itu, seolah-olah lilis mendapatkan suatu yg cemerlang.

Ternyata lilis mendekati lubang anus ibunya yg masih dalam posisi menungging, dari sikapnya itu aku mulai mengerti dengan apa yg akan dia lakukan.

” Tunggu lis, biar aku bantu..” ujarku.

Kusuruh lilis untuk telentang tepat dibawah pantat kokom, sambil membuka mulutnya dengan lebar, setelah itu kukorek-korek lubang anus kokom, lalu kutarik, surrrrr.. mengalirlah air maniku yg tersimpan didalam lubang anusnya, mengalir keluar dan menetes tepat kedalam mulut lilis yg menganga lebar, kembali kukorek anus kokom, keluar lagi sisa-sisa sperma dari dalam namun kali ini tidak sebanyak sebelumnya, lalu lilis menelan seluruh air maniku yg tertampung dimulutnya, setelah habis lilis bangun dan dijilatinya lubang anus ibunya itu dengan rakus untuk mendapatkan sisa-sisa spermaku yg masih melekat, sebuah aksi yg sensual bagiku, yg membuat jantungku berdebar.

” Bagaimana, enak lis..? ” ujarku, sambil memasukan jari telunjukku yg masih melekat sisa-sisa spermaku kedalam mulutnya, dengan rakus lilis mengulum jari telunjukku itu.

” Enak mas, sedap..rasanya tambah enak, mungkin karna bercampur dengan bau dubur mamih, jadi lebih gurih hi..hi..hi..” jawabnya, yg langsung kukecup mulutnya itu, kurasakan aroma air maniku pada mulutnya.

Kokom yg sebelumnya masih dalam posisi menungging, kini duduk dan menghampiriku

” Mas, minta lagi dong, seperti yg tadi dikamar mandi..” pinta kokom, kulihat lilis penasaran dengan apa yg diminta ibunya itu

” Minta apa-an sih mih..? ” ujar lilis

” Iya nih mamih, minta apa sih..? ” ujarku, berpura-pura tak tau

” Ah, mas hendi pura-pura, itu lho, air kencing mas hendi, ayo dong mas..mamih udah kepingin nih,,” ujarnya merajuk, kulihat lilis mengerutkan alisnya, sepertinya dia belum paham dengan yg dimaksud kokom.

” Oke deh..kalau emang mamih sudah kepingin..” ujarku

Tiba-tiba kokom menggulung tikar pandan yg tergelar dilantai, mungkin maksudnya agr tikar itu jangan sampai basah terkena air kencing.

“Ayo mas.. mamih udah enggak sabar nih aaaaakkkk..” ujarnya sambil jongkok dilantai dan membuka mulutnya dengan lebar, bersiap menerima kucuran air kencingku,

Aku berdiri menghadap kokom, kuarahkan batang kontolku sekitar 50cm dari mulut kokom yg menganga, memang sengaja untuk tidak terlalu dekat dengan maksud agar terlihat pancurannya, itu akan lebih sensasional pikirku, kulirik lilis yg masih melongo, dan.. suuuuurrrrr mengucurlah air maniku tepat tertuju kedalam mulut kokom yg langsung ditelannya, belum lagi habis air kencing dimulutnya tertelan, sudah banyak lagi supply air kencing yg keluar dari lubang pipisku membanjiri mulutnya, sebagian ada tumpah dilantai, sebagian membasahi wajahnya, kulihat lilis yg duduk disamping kokom tampak takjub, akhirnya berhentilah kucuran air kencingku.

” Mih.. lilis minta dong mih..” ujar lilis, sambil membuka mulutnya.

Sisa air kencingku yg masih tertampung didalam mulut kokom kali ini tidak ditelannya, seraya kokom berdiri dan membungkukan badannya sehingga wajahnya tepat berada diatas wajah lilis yg duduk sambil menganga, dimuntahkannya air kencingku dari mulut kokom kedalam mulut lilis, lilis langsung menelannya dengan rakus, sepertinya lilis belum puas, diraih kepala ibunya itu dan dikecupnya dengan rakus, sehingga mereka saling berpagutan, betul-betul aku disuguhi aksi yg erotis oleh ibu dan anak ini.

” Huuhhh…sedap mas, segaaaaarrrr…” ujar kokom

” Wah, rupanya mamih tadi sore sudah minum air kencing mas hendi dikamar mandi ya, curang enggak ngajak-ajak..” protes lilis

” Hi..hi..hi.. rahasia dong… ” ujar kokom, menggoda anaknya itu.

” Bukan cuma itu lis, tapi mas hendi juga sudah minum air kencing mamih ..he..he..he.. makanya sekarang giliran mamih yg kencingin saya, sekalian kamu juga lis, biar banyak, biar mas hendi kenyang..” ujarku

Aku duduk dilantai sambil membuka mulutku lebar-lebar, siap menantikan cairan yg menurutku begitu menyegarkan mengalir masuk kemulutku dan tentunya akan kuhirup dan kuminum sepuasnya.

” Ayo dong aku udah enggak sabar nih, menikmati air kencing kalian yg segar dan nikmat itu aaaakkk..” ujarku, seraya membuka mulutku selebar yg aku bisa.

Kokom dan lilis bersiap dengan aksinya mereka berdiri tepat didepanku dengan memek yg menganga siap untuk mengeluarkan air seninya, disibakannya memek mereka dengan kedua tangannya, dan..currrrrrr.. keluarlah kucuran air kencing dari memek kokom, yg tak lama berselang diikuti oleh lilis, dua kucuran dari arah yg berbeda bermuara kesatu pusat, yaitu kedalam mulutku yg menganga lebar, langsung kutelan dengan rakus, begitu banyak air kencing yg mengucur hingga kewalahan aku dibuatnya.

” Ayo mas..minum mas.. nih mas, buat cuci muka mas, biar tambah ganteng hi..hi..hi..” ujar kokom menggodaku.

Terasa kembung perutku meminum begitu banyak air kencing dari kokom dan lilis, hingga sebagian tumpah kelantai dan sebagian lagi kugunakan untuk membasuh wajahku.

Akhirnya berhentilah aliran air kencing dari keduanya, namun dimulutku masih tertampung penuh air kencing mereka, aku berdiri dan kudekati lilis, kubuka mulutnya dengan tanganku, dia mengerti maksudku hingga dibukanya mulutnya leber-lebar dan kumuntahkan isi dari mulutku kedalam mulutnya yg dengan rakus langsung ditelannya.

Cerita seks terbaru Kisah Menikmati Bergilir Tubuh Gadis Desa Yang Montok-Montok Nikmat – [Part 4] 2017 update setiap hari silahkan simpan halaman ini, cerita bokep sex bergambar terbaru.

” Bonus kusus dariku lis, kan kamu tadi masih kurang he..he..he..” ujarku, seraya kukecup bibir lilis

” Makasih mas, nikmat juga..tapi ini kan air kencing mamih dan lilis sendiri hi..hi..hi..” jawabnya

Bersamaan dengan itu dari televisi terdengar wasit telah meniup peluit panjang bertanda selesai pertandingan antara kesebelasan Indonesia vs Laos, Indonesia menang telak 6-0. Begitupun dengan permainan kami yg telah selesai untuk malam itu, akhirnya kamipun mandi bersama untuk membersihkan tubuh kami yg sudah berbau sedemikian rupa, bau keringat bercampur dengan bau air kencing.

*******************
Keesokan sorenya aku balik kejakarta, setelah pagi dan siang harinya aku masih menikmati pesta seks dengan lilis dan kokom tentunya, kuberikan lilis uang sebesar 300ribu, seperti yg dikatakan herman, begitupun kokom kuberikan dengan jumlah yg sama, pak engkos sebagai suami kokom yg telah merelakan istrinya kunikmati selama sehari semalam kuberikan dia 50ribu sekedar untuk beli rokok.

Hartop tua herman telah terparkir dihalaman rumah itu, lilis dan kokom mengantar kepergianku sampai aku memasuki mobil herman.

” Hati-hati dijalan mas, jangan lupa minggu depan kesini lagi ya mas..” ujar lilis, seraya mengecup bibirku

” Terima kasih banyak mas hendi, minggu depan kami tunggu.. hati-hati dijalan..” ujar kokom, juga dikecupnya bibirku, kulihat herman mengerutkan alisnya saat melihat kokom mengecup bibirku, entah apa yg dipikirkannya.

” Makasih jang..sering-sering dateng kesini ya..” teriak pak engkos, yg duduk diteras rumah.

Akhirnya mobil herman meluncur menuju Jakarta, dari kaca spion masih kulihat lilis dan kokom melambaikan tangan.

” Hen, elu koq tadi ciuman sama ibunya lilis..? ” tanya herman heran, yg kujawab hanya dengan senyum.

Malam mulai menyelimuti desa X, kepergianku meninggalkan desa yg unik itu diiringi oleh nyanyian jangkrik dengan iramanya yg khas, yg selalu konsisten mereka nyanyikan disetiap malam hari tanpa pernah merubah arasemennya sedikitpun, seperti halnya dengan irama kehidupan didesa X itu, yg tetap berjalan dengan iramanya sendiri, yg tetap mereka mainkan secara konsisten, tak pernah berubah walau oleh pengaruh apapun.

Sudah hampir tiga tahun aku menjalin hubungan dengan lilis dan kokom, entah apa nama hubungan kami itu, apakah itu hubungan kekasih, hubungan asmara, ataukah hanya hubungan bisnis semata, ah, aku tak peduli dengan itu semua, yg pasti kami sudah bagaikan satu kesatuan yg tidak bisa dipisahkan lagi, bagiku mereka sangatlah lengkap, lengkap dalam artian mereka adalah penghiburku, pelayanku, tempatku berkeluh kesah dan lain sebagainya, bersama mereka jiwaku rasanya tenang dan damai, rasanya aku tak bisa hidup tanpa mereka, seolah mereka bagaikan udara dalam nafasku, terdengar klise memang.

Entah ini hanya kebetulan atau tidak, semenjak aku mengenal mereka, rejekiku mengalir dengan begitu lancarnya, minggu pertama setelah aku baru mengenal mereka, tenderku untuk perusahaan gol semua, sehingga bonus 1% mengalir dengan manis kekantongku, dan itu terjadi 3 kali dalam satu minggu, padahal sebelumnya sebulan sekalipun itu sudah untung, dan hal itu berlanjut pada hari-hari berikutnya, hingga akhirnya sekitar 6 bulan kemudian dengan modal yg ada aku beranikan diri untuk membuat perusahaan sendiri, karna aku sudah paham betul dengan cara kerja perusahaan itu, dan aku telah memiliki chanel-chanel yg bagus untuk usahaku ini, intinya aku sudah dapat “lobang”nya, sehingga hanya tinggal menjalankannya saja, semuanya pasti akan lancar, dan betul memang, dalam jangka waktu satu tahun perusahaanku mengalami kemajuan yg cukup signifikan, dan itu berlanjut sampai saat ini, kini perusahaanku telah tumbuh menjadi salah satu perusahaan yg cukup diperhitungkan, walaupun belum termasuk perusahaan besar.

Kini aku telah memiliki rumah sendiri, rumah yg cukup mewah dikawasan cibubur, aku juga memiliki beberapa bidang tanah dan beberapa rumah yg aku kontrakan, yg sengaja kubeli sekedar untuk infestasi.

Sebagai seorang bujangan yg masih muda dan cukup mapan, dan, ehemm… lumayan ganteng, sudah barang tentu banyak gadis-gadis yg ingin mendapatkan cintaku, namun tak satupun yg dapat menggoda hatiku, hati ini rasanya hanya untuk lilis dan kokom.
Bahkan herman, temanku yang dulu membawaku pertama kali kedesa X itu kini telah menikah dengan teman sekantornya, dan terakhir aku ketahui kini dia telah memiliki seorang momongan, sementara Euis “gacoan”nya didesa X dulu, kini telah menjadi istri simpanan seorang pengusaha timur tengah.
Hingga aku dengar selentingan yg beredar, yg mengatakan bahwa aku adalah seorang gay, namun aku tak ambil pusing soal itu. yg aku pusingkan adalah orang tuaku, yg setiap kali aku mengunjunginya, selalu kata itu yg ditanyakan padaku “kapan kamu menikah hen..?” “ sudah adakah calonmu hen..?” “ inget hen, usiamu sudah kepala tiga..dan kamu sudah cukup mapan..” “ hen, ayahmu sudah tak sabar tuh untuk menggendong cucu..” kata-kata itulah yg sampai saat ini membuatku bingung, apa yg harus aku lakukan? Menikahi lilis? Nyaliku masih terlalu pengecut untuk berani melakukan itu, orang tuaku tergolong orang yg selalu memandang jodoh berdasarkan bibit,bobot, dan bebet, bila mereka tau status dan dari mana lilis berasal sudah barang tentu mereka akan menolaknya mentah-mentah, bagaimana mungkin mereka rela anak yg menjadi kebanggaannya ini harus menikah dengan seorang janda yg asal muasalnyapun dari daerah yg enggak jelas.

Setahun yg lalu rumah lilis telah aku rombak total, kini berdiri rumah yg cukup manis, walaupun tidak dapat dikatakan sebagai rumah mewah, paling tidak cukup nyaman untuk acara akhir pekanku, dengan fasilitas yg aku buat senyaman mungkin, seperti pada kamar lilis yg sengaja kubuat cukup luas, beserta kamar mandi didalamnya lengkap dengan bathtube untuk kami berendam, karna dikamar itulah yg kami gunakan bertiga saat berakhir pekan disana, dan untuk pengairan kupasang pompa listrik, setelah sebelumnya menggunakan sumur timba, intinya rumah itu sudah cukup layak bagiku untuk indehoy dengan lilis dan kokom diakhir pekan, sesuai dengan angka 300juta yg aku habiskan untuk biaya pembangunannya.

Kolam ikan pak engkos kini bertambah lebar, dan ikan-ikannyapun bertambah banyak, sehingga hasil panennyapun kini meningkat, bahkan masih bisa disisihkannya untuk menabung, itu karena suntikan modal yg kuberikan pada pak engkos sekitar satu setengah tahun lalu.

Karta, kakak lilis yg sebelumnya bekerja dijakarta sebagai buruh bangunan kini kupekerjakan diperusahaanku, sesuai dengan kapasitas dan kapabilitasnya tentunya, tak mungkin aku menempatkan karta sebagi menejer atau jabatan penting lainnya, walaupun dia adalah kakak lilis. Sehingga aku pekerjakan dia sebagai pengawas gudang, kejujurannya dapat kuandalkan untuk pekerjaan itu, aku rasa itu jauh lebih baik daripada dia harus bekerja sebagai buruh bangunan dijakarta, dan sikap karta sangat hormat sekali padaku, walau sudah berkali-kali kuingatkan padanya untuk bersikap wajar saja.

********
Untuk pertama kalinya sejak hampir tiga tahun aku berhubungan dengan lilis dan kokom mereka ingin kejakarta, setelah sebelumnya akulah yg selalu datang kedesa X untuk mengunjungi mereka, alasannya adalah kokom ingin belanja dipasar tanah abang, yg menurut tetangga-tetangga disana pasar tanah abang banyak dijual berbagai pakaian dengan segala model dan dengan harga yg relative murah, untuk itulah sehingga kokom memintaku untuk mengantarnya kepasar tanah abang.

Dari desa X aku membawa lilis dan kokom meluncur menuju kepasar tanah abang, kali ini aku tidak lagi menumpang hartop tua milik temanku, kini aku telah memiliki kendaraan sendiri, seperti biasa untuk berkunjung ke desa X ini selalu aku gunakan jeep wrangler, jenis kendaraan yg handal walaupun melintasi kubangan kerbau sekalipun, walaupun dirumahku masih ada kendaraan sedan yg biasa aku gunakan untuk ketempat kerja, dan satu lagi yaitu mobil kijang inova sekedar untuk keperluan keluarga bila dibutuhkan, namun selama ini inovaku itu lebih sering menjadi penghuni garasi.

Penampilan kokom dan lilis saat ini sungguh berbeda dengan tiga tahun lalu, aku selalu menyempatkan untuk mengantarnya kesalon dikota bogor setiap kali kali aku berkunjung kesana dengan maksud untuk “memoles” penampilan mereka, mereka kini tampil lebih modis, potongan rambut kokom jauh berbeda dengan yg dulu, dengan semir rambut berwarna kemerahan dibeberapa bagian rambutnya menambah seksi penampilannya, serasi dengan celana hotpan ketat yg sebatas lutut, sehingga memperlihatkan betisnya yg putih indah, dan lekuk pantatnya yg besar tampak menyembul, dipadu dengan sandal hak tinggi menghiasi kakinya yg jari jemari kukunya diwarnai dengan cat kuku berwarna merah, begitupun kuku jari tangannya juga dihiasi dengan pewarna kuku berwarna merah muda, dan telapak tangannya itu tidak lagi kasar seperti dulu, telapak tangannya kini halus bak tangan priyayi, dan apa yg dikenakan oleh kokom dan juga lilis semua aku yg membelikannya, tentunya bukanlah dipasar tanah abang ini, melainkan kubeli digerai-gerai pakaian ternama.

Hampir dua jam kami mengubek-ubek dipasar tanah abang yg cukup ramai itu, begitu banyak sudah yg kami belanjakan, “mumpung disini mas, sekalian untuk oleh-oleh tetangga-tetangga dirumah” begitu alasan kokom. Penampilan dua gacoanku yg seksi ini menjadi perhatian beberapa lelaki disana, kulihat tatapan mereka yg nanar kearah bokong kokom yg semok atau kearah belahan dada lilis, entah apa yg ada didalam benak dan hayalan mereka, aku hanya tersenyum saja melihatnya. Aku sadar bahwa penampilan mereka terbilang terlalu hot, sehingga terkesan norak bila berkunjung kepasar tanah abang yg sumpek seperti ini dengan penampilan seperti itu, sehingga wajar bila mereka menjadi pusat perhatian laki-laki yg melihatnya, namun aku tak mempermasalahkannya.

Menjelang pukul satu siang kami memborong beberapa potong pakaian, cukup banyak juga, sampai-sampai kami harus menggunakan jasa kuli panggul untuk membawakannya hingga sampai kemobil, namun tak beberapa banyak uang yg kuhabiskan untuk itu, tak sampai 8 juta, tak apalah, toh selama inipun mereka tak pernah meminta atau menuntut macam-macam, mereka hanya menerima apa yg aku berikan, tanpa pernah protes atau meminta yg lain, apalagi berusaha untuk mengeret aku, itulah salah satu yg membuatku simpati pada mereka.

Sekitar pukul 3 sore kami tiga dirumahku dikawasan cibubur, rasa lelah berputar dipasar tanah abang yg sumpek dan padat membuat kami langsung terlelap tidur selama kurang lebih dua jam.

Selama tiga tahun aku berhubungan dengan lilis dan kokom tak sedikitpun aku merasa bosan atau jenuh dalam berhubungan seks dengan mereka, entah mengapa mereka selalu membuat birahiku bangkit, dan disamping itu pula , kami selalu melakukan berbagai fariasi dan inovasi dalam berhubungan seks, sehingga membuat kehidupan seks kami selalu bergairah. Seperti misalnya dalam setiap aku berkunjung kesana aku membawa uniform dan aksesoris dokter atau perawat yg aku beli dan di design khusus dengan model yg seksi dan ketat, lengkap dengan peralatan dokter seperti stetoskop dll, biasanya kokom berperan sebagai dokter dan lilis sebagai perawat, sementara aku sebagai pasiennya, dan untuk selanjutnya terjadilah hubungan seks sesuai dengan sekenario yg kami buat, walaupun biasanya sekenario yg kami rencanakan akan berubah oleh improfisasi kami. Atau pada minggu berikutnya aku membawa seragam sekolah SMU untuk kokom dan lilis yg juga didesign khusus dengan model yg super seksi, sementara aku berperan sebagai seorang guru, dan akhirnya terjadi hubungan seks antara guru dan murid dikamar yg telah kami buat sedemikian rupa sehingga agak mirip dengan ruang kelas. Atau aku akan membawa pakaian funk yg ekstrim itu, dan kami dandani diri kami sehingga menyerupai kaum funk lengkap dengan sepatu boot tinggi dan rambut mohak dengan menggunakan cream pengkaku rambut, dan masih banyak lagi fariasi-fariasi yg kami perankan dalam setiap kami berhubungan seks, seperti pakaian ala koboy, tentara, bahkan ala hantu, dan aku juga melengkapinya dengan berbagai alat bantu seks seperti dildo, anal bead, dll.

Seusai tidur siang aku duduk bersantai diruang tengah sambil berbincang-bincang dengan lilis, sementara kokom masih berkeliling kesekitar ruangan dirumahku, sepertinya dia sangat mengagumi dengan gaya interior rumahku ini, kulihat dia begitu antusia keluar masuk ruangan dan naik turun tangga, sesekali memegang beberapa aksesoris yg kupajang sebagai hiasan dinding atau pemanis ruangan. Setelah puas dia berkeliling dihempaskannya pantatnya disofa empuk disampingku, celana pendek ketat yg dikenakannya membuat aku terangsang, ditambah lagi lilis yg saat itu mengenakan rok pendek dan kakinya diangkat sedemikian rupa sehingga celana dalamnya terlihat, birahiku timbul, apalagi sudah satu minggu aku belum menikmati tubuh mereka, tadi pagi setibanya aku didesa X, kami langsung meluncur kepasar tanah abang, sehingga aku belum sempat melakukan apapun dengan mereka.

“ Main dokter-dokteran yuk..!” ujarku, sambil megelus-elus paha kokom

“ Iya nih mas, mamih juga udah kangen sama kontol mas hendi..” jawab kokom, sambil mengurut-urut batang kontolku yg masih terbungkus celana pendek.

“ Iya mas, memek ilis juga udah gatel nih pingin dientot, abis mamih tadi buru-buru sih, mestinya tadi sebelum berangkat kita ngentot dulu ..” ujar lilis, sambil mengelus-elus memeknya yg masih dibalut celana dalam.

Kata-kata lilis yg vulgar itu membuatku semakin terangsang, seraya kusuruh mereka untuk kekamar, untuk mengganti pakaiannya dengan seragam dokter.

“ Ayo cepat kalian kekamar, disitu sudah aku siapkan seragam kalian..” perintahku, segera mereka menuju kekamarku. Sementara aku menurunkan benda-benda yg ada diatas meja makan, termasuk taplak. Lalu kupinggirkan semua kursi-kursi yg mengelilinginya. Rencanaku meja makan ini akan kufungsikan sebagai tempat tidur pasien untuk acara dokter-dokteran yg akan kami lakoni. Dan permainan seks dokter-dokteran ini adalah salah satu lakon paforitku, dan sudah beberapa kali kami melakukannya, hingga kami sudah hafal betul sekenarionya, walaupun setiap kami melakoninya ada saja improfisasi yg kami lakukan, sehingga melenceng dari scenario sebelumnya, namun itu justru yg aku suka.

Tak lama kemudian dokter dan perawat palsu itu tiba, seragam dokter kokom dengan rok mininya yg super ketat sehingga memperlihatkan lekuk pantatnya yg besar, begitu pula dengan bajunya yg ngepres memperlihatkan pusarnya serta belahan buah dadanya yg tentu saja sudah tidak lagi memakai BH, seperti halnya juga dia tak memakai celana dalam, dipadu dengan sepatu hak tinggi serta make up yg seksi dan mencolok, sehingga sosok kokom berubah menjadai sosok dokter yg menurutku adalah dokter paling seksi didunia, plus dengan stetoskopnya yg tergantung dileher. Begitupun lilis dengan seragam susternya, yg tak jauh berbeda dengan kokom, hanya lilis memakai topi khas suster dengan lambang palang merah, dan dileher lilis tidak tergantung stetoskop.

Aku rebahkan diriku telentang diatas meja makan, kugunakan bantal sofa untuk alas kepalaku.

“ Apa keluhannya pak..? “ tanya kokom, layaknya seorang dokter sungguhan

“ Lemas dok, kurang bergairah..” jawabku, seraya kokom menempelkan stetoskop pada dadaku, yg kiri dan kanan, tiba-tiba dikerutkan alisnya sepertinya “sang dokter” mendeteksi adanya yg tidak beres dengan tubuhku, kemudian ditempelkannya lagi stetoskopnya seolah ingin meyakinkan. benar-benar acting yg menawan si kokom ini, begitu natural, tidak kaku atau tampak seperti dibuat-buat, mungkin karna hobinya menonton acara sinetron barangkali, dan kuakui kokom memang memiliki bakat terpendam dalam seni peran. Berbeda sekali dengan beberapa pemain sinetron pendatang baru yg hanya bermodalkan tampang saja namun dengan kualitas acting yg memprihatinkan.

“ Coba tarik nafasnya yg dalam ya pak..iya, tahan… sekarang hembuskan.. sekali lagi..” perintah kokom, yg juga aku turuti. Beberapa saat kemudian kokom menarik nafas panjang, seolah seolah hasil dari pemeriksaannya padaku mendapatkan hasil yg buruk, atau aku dinyatakan positif menderita penyakit tertentu.

“ Aduuhhh… sayang sekali pak, bapak terlambat memeriksakan diri bapak, penyakit bapak telah mencapai pada stadium yg menghawatirkan..” ujarnya lesu

“ Lalu bagaimana dok, apa masih bisa disembuhkan..? “ jawabku, dengan ekspresi wajah berpura-pura tegang tentunya, walaupun actingku tidak sebaik kokom.

“ Akan saya coba pak, doakan saja semoga cara kami membuahkan hasil, sekarang coba buka semua pakaian bapak..” perintah kokom

“ Semuanya dok..? “ tanyaku

“ Iya semuanya, telanjang..” ujar kokom, seraya kulucuti semua pakaianku hingga bugil.

“ Sekarang kami akan coba melakukan terapi dengan cara kami, kami harap bapak tetap koorporatif dan mengikuti setiap sesi terapi yg kami lakukan, dan jangan banyak protes, karna itu justru akan berdampak lebih buruk bagi kesehatan bapak.. tapi kami tetap yakin bahwa metode kami ini adalah yg terbaik untuk bapak, dan saya yakin akan bisa berhasil selama bapak tetap koorporatif tentunya..” terang sang dokter, sungguh luar biasa, begitu fasih sekali kokom dengan dialog itu, yg sebenarnya memang aku yg membuat skenarionya, tapi aku tak menyangka kalau dia dapat menghafal dan mengucapkannya dengan sesempurna itu, mungkin seorang sutradara film tak akan terlalu repot mengarahkan bila artis-artisnya sehebat kokom ini, karna kokom sangat bisa menjiwai peran yg dia mainkan.

“ Suster..coba kamu tempelkan memek kamu kemulut bapak ini..” perintah kokom pada lilis, seraya sang perawat palsu itu naik keatas meja makan, lalu berdiri mengangkangi wajahku, disingkapnya rok mini yg membungkus pantat seksinya, tampaklah memeknya karna memang lilis sudah tidak memakai celana dalam sebelumnya, lalu lilis jongkok sehingga memeknya tepat berada didepan mulutku.

“ Ayo pak, bapak jilatin memek saya, biar cepat sembuh..” ujar lilis manja, sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya dengan genit, membuat aku begitu gemas hingga kugigit pelan klitorisnya yg mencuat bagaikan kacang , yg membuatnya sedikit terpekik.

“ Aaawwww.. ih, bapak nakal ya, disuruh jilatin memek koq malah gigit itil suster sih..” ujarnya.

Kini mulai kujilati seluruh area memek lilis, hingga lidahku kugelitik-gelitik sampai kedalam lubang senggamanya, kulihat lilis tampak merintih kenikmatan dengan aksiku itu.

“ Zzzzzz..aaaahhh… iya terus paaakkk… terus jilatin memek suster, biar bapak cepet sembuh ya pak aahhh..” rintih lilis sambil kedua tangannya meremas-remas rambutku, sementara itu kulihat kokom dengan buku dan pulpen ditangannya sedang mengamati aksi kami, wajahnya tampak begitu serius, tak terkesan sama sekali kalau dia sesungguhnya sedang berakting, sesekali ia menuliskan sesuatu dibukunya itu, persis bagaikan seorang ilmuan yg sedang melakukan penelitian ilmiah, “macam betul saja kau, kokom..” dalam hatiku tertawa.

“ Suster.. selanjutnya kamu berikan anus kamu..” perintah kokom supaya lilis menyodorkan lubang anusnya untuk aku jilat. Seraya kokom menyibakan lubang duburnya itu dengan kedua tangannya, sehingga lubang anusnya tampak menganga tepat didepan hidungku, aromanya yg khas membuatku semakin bernafsu.

“ Ayo pak.. sekarang bapak jilatin lubang anus saya ya pak..” ujar lilis dengan mesra, masih dengan gaya genitnya yg menggemaskan.

Kujulurkan lidahku pada anus lilis yg tepat berada dihadapanku itu, kujilati dengan rakus, kutusu-tusuk lidahku hingga menembus kebagian dalamnya, tampak lilis mengelinjang-gelinjang nikmat.

“ Aaaaaaaahhhhh…terus pak, jilatin lubang anus suster, lubang tai suster.. aaaahhhh bapak pinter deh, aaahhh pasti bapak cepat sembuh nih…aaaahhhh..” ujar lilis, semakin bernafsu aku mendengar ocehan vulgar suster palsu itu.

“ Ayo suster, sekarang kamu ubah posisi, sekarang kamu membelakangi pasien..” perintah kokom kepada lilis, seraya lilis membalikan badannya memunggungiku, sehingga kini aku dapat melihat bokongnya yg bulat, dan masih kujilati lubang anusnya itu.

“ Sekarang kamu menunduk dan kamu hisap kontol pasien..” perintah kokom pada lilis

Sambil aku masih menikmati lubang anus lilis, kini lilis mengoral batang kontolku, sehingga kini kami melakukan posisi 69.
Kulihat tangan kanan kokom menjambak rambut lilis, sementara tangan kirinya digunakan untuk memegang tengkuk lilis sambil mendorong-dorongkannya kebawah, sehingga batang kontolku tandas masuk sampai kepangkal tenggorok lilis.

“ Iya kamu hisap yg dalam suster.. seperti ini.. iya..terus iya.. tahan…iya..” ujar kokom sambil mendorong-dorong tengkuk lilis, dan menahannya beberapa saat saat seluruh batang kontolku masuk seluruhnya didalam mulut lilis, tampak air mata lilis mulai menetes, karna ujung kontolku yg menyentuh tenggorokannya, begitu banyak air ludah lilis yg kental menetes dari sela-sela bibjirnya, hampir muntah lilis dibuatnya oleh aksi kokom itu.

“ Ayo suster, sekarang kamu tumpahkan air ludahmu itu kedalam mulut pasien…” perintah kokom, dibimbingnya lilis kearah wajahku dengan cara menjambak rambutnya, dan tangan satunya masih memegang tengkuknya, lilis hanya mengikuti tuntunan kokom.

“ Coba buka mulut bapak yg lebar..” perintahnya, kuturuti apa yg diperintahkan kokom, kubuka mulutku lebar-lebar.

Dan, tumpahlah cairan ludah kental dari mulut lilis kedalam mulutku, kureguk dan kutelan dengan rakusnya, sesuatu yg sebenarnya amatlah menjijikan bila dipikir dengan akal sehat, tapi tidak disaat aku sedang menikmati seks seperti ini, disaat jiwaku sedang dipenuhi oleh nafsu birahi seperti ini hal menjijikan seperti itu justru membuatku semakin bergairah, semakin terbuai, apalagi oleh wanita-wanita cantik dan seksi seperti lilis dan kokom ini, rasanya segala yg dikeluarkan dari dirinya selalu ingin kureguk habis (kecuali tainya tentunya..he..he..he..).

“ Bagus pak.. telan semua, itu bagus untuk mengembalikan stamina bapak agar lebih segar…” ujar kokom.

“ Coba suster, sekarang kamu masukan kontol bapak ini dalam memek kamu ya.. kamu lakukan dari atas sambil berjongkok…” perintah kokom kepada lilis

Segera lilis mengangkangi tubuhku, diposisikan dirinya berjongkok diatas batang kontolku yg berdiri tegak, lalu digenggamnya batang kontolku sambil dibimbingnya kearah lubang senggamanya, dan bless…masuklah seluruh kontolku.

“ Ayo suster, kamu entot kontol bapak ini yg keras… “ ujar kokom kepada lilis yg langsung diikuti oleh lilis.

nikmat rasanya setelah satu minggu kontol ini belum merasakan nikmatnya lubang-lubang memek mereka, hingga sedikit mataku terpejam menikmati goyangan pantat lilis yg naik turun memompakan batang kontolku.

“ Bagaimana pak… enak kan..? simulasi ini berfungsi untuk melancarkan peredaran darah bapak agar kembali seperti sediakala…” terang kokom, yg tentunya kata-kata itu sudah tertulis dalam sekenario yg kubuat, yg sudah dihafal mati oleh “dokter palsu” ini.

Sementara lilis dengan gencar memompa batang kontolnya dengan posisi WOT, kokom yg sedari tadi hanya bertindak sebagai “mandor” kali ini mulai naik keatas meja dan berjongkok tepat diatas wajahku, sehingga dari bawah kulihat belahan memeknya yg merekah sudah mulai basah oleh cairan birahi, dan aahh.. aroma khasnya itu yg membuatku semakin bernafsu.



“ ayo pak, sambil kontol bapak dintot oleh suster, bapak jilati memek saya pak…” perintahnya, yg segera kuraih pantat montok yg tepat berada diatas wajahku itu, dengan rakus kubenamkan mulutku kedalam liang senggamanya, sementara lidahku mulai lincah bergerilya didalamnya menjilati seputar area memek kokom.

Dengan kokom berjongkok diatas wajahku praktis kini kokom berhadap-hadapan dengan lilis yg sedang mengentot batang kontolku dengan posisi WOT, terinspirasi dari tayangan film porno yg sering ditonton oleh kokom, yg memang sengaja sering aku bawa dvd-dvdnya dari Jakarta, membuat kokom tanpa canggung mengecup dengan mesra bibir putri kandungnya itu, yg oleh lilis juga disambut dengan tak kalah hotnya, sehingga terjadilah adegan lesbi yg hot dari ibu dan anak itu, hal yg membuat gairahku semakin bangkit tentunya.

“Ayo pak.. jilatin lubang anus saya…” ujar kokom beberapa menit kemudian setelah puas memeknya menerima jilatan lidahku, seraya agak digeser sedikit posisi pantatnya sehingga lubang anusnya tepat mengarah pada mulutku, dengan rakus kujilati lubang anus kokom, aroma khasnya membuatku bertambah bersemangat, sesekali kusedot-sedot seluruh permukaan duburnya yg membuatnya bergelinjang-gelinjang menahan geli.

Sementara lilis masih dengan tandas menaik turunkan bokongnya mengocok batang kontolku sambil tetap berpilin lidah dengan kokom.

Hampir sepuluh menit kami berasik masuk dengan posisi seperti ini, untuk kemudian kokom meminta untuk bertukar posisi dengan lilis.

“ Baik suster, sekarang biar saya yang mengentot kontol pasien, sekarang suster yg duduk diwajah pasien…” perintah kokom kepada lilis.


Prediksi togel: planetmimpi

Share:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © ceritasexindo | Powered by cerita sex indo Design by planetmimpi | Blogger Theme by Ceritasexindo